M-Galeri.com, Pohuwato — Di sebuah rumah sederhana berukuran sekitar 4×5 meter di Dusun Panua, Desa Palopo, waktu seolah berjalan tanpa banyak perubahan.
Selama 16 tahun, Thalib Buliide (40) dan istrinya, Astin S. Noe (43), menjalani kehidupan mereka di rumah kecil tersebut.
Sejak 2010, rumah itu menjadi tempat mereka berlindung, merajut asa, dan melewati hari-hari dengan segala keterbatasan.
Namun, rumah yang mereka tempati jauh dari kata layak. Atapnya bocor dan telah berulang kali ditambal. Di bagian dapur, rumbia menjadi satu-satunya pelindung dari panas matahari dan derasnya hujan.
Tak ada perabot mewah. Tak ada fasilitas yang menunjukkan kemewahan. Yang terlihat justru kesederhanaan sebuah keluarga yang selama bertahun-tahun berusaha bertahan dengan apa yang mereka miliki.
Ironisnya, rumah kecil itu berada tidak jauh dari pusat perkantoran pemerintahan.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, bagaimana mungkin selama bertahun-tahun mereka belum juga mendapatkan bantuan untuk memiliki rumah yang lebih layak?
Astin mengaku, beberapa kali ada pihak yang datang melihat kondisi rumah mereka. Namun, kedatangan itu belum berujung pada bantuan yang dijanjikan.
“Tidak pernah, Pak. Ada yang datang cuma foto-foto. Tapi sampai sekarang tidak ada bantuan yang dijanjikan,” ungkap Astin saat ditemui awak media, Jumat (11/9/2026).
Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) memang pernah mereka terima. Namun, menurut Astin, bantuan tersebut hanya berlangsung beberapa bulan dan sudah berhenti sekitar dua tahun lalu.
Kini, mereka kembali menjalani kehidupan dengan kemampuan seadanya.
Meski begitu, Astin tidak ingin banyak menuntut.
Ia bahkan mengaku malu jika harus datang meminta-minta bantuan.
Kalimatnya terdengar sederhana, tetapi menyimpan kepasrahan yang panjang.
“Kalau ada, Alhamdulillah. Kalau tidak, ya tidak apa-apa, Pak. Malu mau minta-minta,” ujarnya lirih.
Bagi Astin, memiliki rumah yang layak tentu menjadi sebuah kebahagiaan. Tetapi ia memilih tidak memaksakan harapan itu kepada siapa pun.
Ia hanya menjalani hari demi hari, di rumah kecil yang selama 14 tahun menjadi saksi perjalanan hidupnya bersama sang suami.
Di balik dinding sederhana dan atap yang telah berkali-kali ditambal itu, ada keluarga yang mungkin tidak banyak bersuara.
Bukan karena mereka tidak membutuhkan.
Melainkan karena mereka memilih tetap bertahan, sembari menyimpan harapan kecil bahwa suatu hari nanti, akan ada perhatian yang datang bukan sekadar untuk mengambil gambar, tetapi benar-benar membawa perubahan.
Sebab bagi keluarga seperti Thalib dan Astin, rumah layak bukanlah kemewahan.
Rumah adalah tempat untuk merasa aman, tempat berteduh dari hujan, dan tempat pulang.

















