M-Galeri.com, Pohuwato — Kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Pohuwato kembali menjadi sorotan. Bukannya menunjukkan perbaikan, pelayanan justru dinilai semakin memburuk setelah seorang pasien malaria meninggal dunia yang diduga kuat akibat lambannya penanganan medis di Puskesmas Paguat.
Peristiwa ini bermula pada Kamis (15/01), saat Puskesmas Paguat menerima seorang pasien yang mengeluhkan sakit pada bagian kaki disertai sesak napas. Namun, alih-alih mendapatkan penanganan maksimal, kondisi pasien justru semakin memburuk keesokan harinya, Jumat (16/01).
Berdasarkan hasil diagnosa cepat (Rapid Diagnostic Test/RDT) yang dilakukan pihak Puskesmas, pasien dinyatakan mengidap malaria. Untuk memastikan hasil tersebut, pasien seharusnya menjalani pemeriksaan lanjutan melalui mikroskop.
Sayangnya, pada saat itu tenaga kesehatan yang bertugas di bagian pemeriksaan laboratorium tidak berada di tempat, sehingga pemeriksaan lanjutan tidak dapat dilakukan.
Kondisi pasien yang semakin kritis membuat salah satu dokter Puskesmas meminta keluarga untuk segera merujuk pasien ke rumah sakit di Kota Gorontalo. Alasan rujukan tersebut karena obat penanganan malaria yang dibutuhkan diklaim tidak tersedia di Puskesmas Paguat.
Namun, setelah pihak keluarga melakukan koordinasi lebih lanjut, terungkap bahwa obat malaria yang dimaksud sebenarnya telah tersedia dan masuk ke Dinas Kesehatan Kabupaten Pohuwato sejak Rabu (14/01), atau sehari sebelum pasien datang ke Puskesmas.
Keluarga pasien pun berupaya menghubungi Kepala Puskesmas Paguat guna memastikan ketersediaan obat tersebut agar bisa segera dijemput dan diberikan kepada pasien.
Namun sangat disayangkan, Kepala Puskesmas disebut enggan menjemput obat dengan alasan pasien sudah akan dirujuk ke rumah sakit.
Sikap tersebut dinilai mencerminkan buruknya respons dan minimnya rasa tanggung jawab pelayanan kesehatan terhadap keselamatan pasien. Puskesmas yang seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan justru gagal memberikan penanganan cepat dan tepat.
Akibat keterlambatan tersebut, pasien akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Aloei Saboe pada Jumat (23/01/2026) sekitar pukul 13.30 WITA.
Keluarga pasien menyampaikan kekecewaan mendalam atas pelayanan Puskesmas Paguat yang dinilai abai dan tidak sigap dalam menangani kondisi darurat.
Mereka berharap kejadian ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan agar kelalaian serupa tidak kembali memakan korban jiwa.












